Ricuh Penjualan Tiket Final Piala AFF 2016 Indonesia Vs Thailand, PSSI Tak Berkualitas!

POJOKSATU.id, JAKARTA – Lagi-lagi, masalah penjualan tiket laga leg pertama Final Piala AFF antara Indonesia vs Thailand menjadi sorotan tajam. Hal itu setelah dalam proses penjualan tiket offline tersebut, banyak suporter Timnas yang menjadi korban karena saling berdesakan.

Melihat pada kenyataan tersebut, Ketua Umum DPP Himpunan Mahasiswa Pascasarjana, Andi Fajar Asti pun menilai bahwa induk sepakbola Indonesia itu masih belum mampu menunjukkan kualitasnya dalam tata kelola sepakbola Indonesia.

Ironisnya, hal itu terjaid setelah terpilihanya Pangkostrad Ediy Rahmayadi sebagai ketua umum baru PSSI yang digadang-gadang bakal membawa perubahan besar dalam tubah sepakbola Indonesia yang karut-marut.

“Parahnya, itu terjadi di depan Markas Pangkostrad. Itu kan ironis sekali,” tegasnya.

Hal lain yang cukup mengganggu adalah tidak sedikit pula para suporter tersebut rela menginap di depan Mako Pangkostrad sejak malam sebelumnya, hanya untuk mendapatkan selembar tiket tersebut.

Padahal, lanjutnya, jika animo besar masyarakat Indonesia yang sudah menikmati sepakbola sebagai hiburan itu dapat di kelola dengan baik, sebenarnya justru akan memberikan keuntungan tinggi secara ekonomis.

“Semestinya, naiknya animo fans timnas ini dihargai dan diapresiasi setinggi-tingginya dengan cara melakukan sistem manajemen penjualan tiket secara profesional. Kenapa tidak melakukan seluruh penjualan lewat online sebagaimana yang dilakukan oleh negara-negara eropa?” lanjutnya.

Dengan cara itu, penikmat bola tidak perlu harus antri bahkan harus menginap di depan loket penjualan tiket. Penjualan online tentu menjadi solusi terbaik karena orang bisa beli hanya dengan duduk di kamar terus buka situs lewat gadget, isi biodata, memakai KTP dan selesai.

“Kan sebenarnya tidak ada bedanya dengan beli tiket pesawat? mudah saja, kok,” tambah Ketua Bidang Olahraga DPP HMPI, Beny Badaru.

Yang lebih menggelikan, sambungnya, sudah proses pembelian tiket yang setengah hati, ribet dan berdesak-desakkan, masih juga ditambah dengan sistem penukaran hasil pembelian tiket online.

“Ini kan kebuntuan berfikir menurut saya. Semestinya setelah pembelian online cukup dengan menunjukkan barcode lewat gadget, orang sudah bisa masuk stadion. Ini kok jadi dibuat ribet,” kecamnya. *Ruh Guruh

 

Leave a Reply