DPP HMPI: Pengelolaan Sepak Bola Di Negeri Ini Semakin Bobrok

RKNews – Setelah terpilih ketua Umum PSSI sejak 10 november 2016, Edy Rahmayadi dinilai tidak menunjukkan kualitasnya mengelola sepak bola di negeri ini.

Betapa tidak, menurut Andi Fajar, hari ini kita di pertontonkan musibah saling dorong dan bahkan jatuh korban akibat desakan pada pembelian tiket nonton AFF final antara Indonesia vs Thailand yang akan di gelar besok 14 Desember 2016 di depan markas Pangkostrad.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Himpunan mahasiswa pascasarjana Indonesia / DPP HMPI, Andi Fajar Asti menyesalkan bahwa hampir seluruh loket penjualan tiket di jakarta di penuhi desakan fans timnas demi mendapatkan selembar tiket. Parahnya lagi, untuk mendapatkan tiket harus menginap di depan markas panglima Kostrad.

“Ini kan sesuatu yang sangat miris dan memalukan. Pasalnya, Negara yang begitu besar tidak mampu menghargai animo Fans Timnas untuk menikmati hiburan bola yang padahal kalau di kelola dengan baik justru menjadi nilai ekonomi tinggi.”terangnya.

Andi Fajar berpesan, semestinya naiknya animo fans timnas ini di hargai oleh pemerintah melalui apresiasi setinggi tingginya dengan cara melakukan sistem manajemen penjualan tiket secara profesional. Kenapa tidak melakukan seluruh penjualan lewat Online sebagaimana yang di lakukan oleh negara-negara eropa.

Hal senada dikatakan mahasiswa S3 Olahraga UNJ/Ketua Bidang Pemuda Olahraga DPP HMPI, Beny Badaru, Jadi penikmat bola tidak perlu harus antri ribuan orang bahkan harus menginap di depan loket penjualan tiket. Penjualan Online tentu menjadi solusi terbaik karena orang bisa beli hanya dengan duduk di kamar terus buka situs lewat gadget, isi biodata, memakai KTP dan selesai. Apa bedanya beli tiket pesawat ? kan mudah aja.

“Nah Sebenarnya PSSI sudah melakukan tapi setengah hati, ribet dan kelirunya lagi, PSSI ini mewajibkan ada lagi sistem penukaran hasil pembelian Online. Ini kan kebuntuan berfikir menurut saya, semestinya setelah pembelian online cukup dengan menunjukkan Barcode lewat Gadget, orang sudah bisa masuk stadion.”pesan Beny.

Tentu ini harus menjadi perhatian serius oleh PSSI jika memang mau memperbaiki manajemen sepak bola kita. Kalau persoalan tiket saja sebobrok ini jangan mimpi deh memperbaiki kualitas sepakbola kita bahkan jangan pernah sejengkal mimpinya jadi tuan rumah Piala Dunia. Atau jangan-jangan menunggu pembekuan PSSI periode kedua. Semoga tidak, Bravo Timnas. tutup Beny. (Fy)

 

Leave a Reply