Refleksi Gempa Bumi di Nias; Antara Mudorat dan Berkah

 

Peristiwa gempa yang terjadi kemarin, 27 Maret 2017 pukul 20:15:26 WIB di Nias Selatan Sumatera Utara tidak berpotensi tsunami. Lokasi gempa tepat di 0,54 LU-98,38 BT pada kedalaman 50 km dengan magnitude 5,0 SR. Getaran gempa ini tentunya dirasakan oleh masyarakat setempat karena jaraknya hanya 64 km dari arah tenggara Nias Selatan.

Data Badan Meteorologi, Klimatoligi dan Geofisika menunjukkan bahwa semenjak tahun 2017 sudah tercatat 60 gempa yang terjadi di Wilayah Indonesia, 16 diantaranya terjadi di Pulau Sumatera. Rata-rata gempa yang terjadi tersebut berkekuatan 5 SR. Walaupun kekuatannya masih tergolong lemah namun jaraknya cukup dekat yaitu tidak lebih dari 50 km dari pusat gempa.

Padatnya gempa yang terjadi di Pulau Sumatera tidak lain karena adanya pertemuan dua lempeng besar dunia yaitu tumbukan lempeng Eurasia dari arah utara dengan Indo-Australia dari arah selatan. Menurut Demest (1990), pergerakan lempeng Indo-Australia sebesar 71mm/tahun sedangkan lempeng Eurasia sebesar 67 mm/tahun. Pergerakan  Lokasi pertemuan lempeng ini merupakan akumulasi dari tumbukan energi yang terkumpul pada suatu titik yang jika tidak dapat tertahan lagi maka memicu terjadinya gempa bumi. Selain itu, pelepasan energi yang sesaat ini tentunya menimbulkan berbagai dampak terhadap lingkungan dan bangunan di sekitarnya.

Peta Pertemuan Lempeng di Indonesia (Sumber : bmkg, 2015)

Pertemuan dua lempeng besar di Pulau Sumatera ini tidak hanya menimbulkan mudorat semata tetapi juga membawa berkah yaitu terbentuknya beberapa cekungan sedimen. Cekungan inilah yang kemudian menjadi batuan induk dan batuan reservoir hidrokarbon, tempat ditemukannya minyak bumi, gas, panas bumi serta berbagai jenis sumber daya mineral.

Adapun beberapa cekungan di Sumatera akibat dari gempa bumi diantaranya :

  1. Cekungan tersier Sumatera, meliputi bagian utara ( Aceh dan Sumatera Utara), bagian tengah (Riau dan kepulauannya), bagian selatan (Jambi, Sumatera Selatan, dan Lampung), serta Intermountana dan Ombilin. Semua cekungan tersier di Sumatera ini menyimpan 78% cadangan minyak bumi terbesar di seluruh Indonesia.
  2. Arun di Kepulauan Natuna Provinsi Riau ditemukan potensi gas alam terbesar di Asia Tenggara yang diperkirakan sebesar 10 triliun CF.
  3. Cekungan Ombilin ditemukan tambang batu bara seluas 43.750 ha di Sumatera Selatan, 15.498,72 ha di Sumatera Barat, dan 328.361 ha di Riau. Potensi batu bara ini sebesar 67,83% merupakan terbesar di Indonesia yang diperkirakan 36 miliar ton tersebar di wilayah Sumatera.
  4. Sarulla di Sumatera Barat dan Gunung Sibayak di Sumatera Utara ditemukan potensi panas bumi (geothermal) sebesar 1.100 MW sekitar 11% di seluruh Indonesia.

Selain beberapa sumber daya energi terbesar tersebut, tentunya masih banyak lagi jenis sumber daya mineral yang ditemukan di Sumatera, seperti Intan di Sumatera Barat dan Riau; bauksit di Riau;  bijih timah di Riau, Pulau Bangka, dan Pulau Belitung. Hal yang perlu kita sadari sekarang adalah bagaimana meminimalisir kerusakan lingkungan dan bangunan akibat yang ditimbulkan oleh gempa selanjutnya. Pemerintah setempat, peneliti/akademisi, dan masyarakat sekitar perlu bekerja sama untuk menghadapi gempa selanjutnya dengan melakukan berbagai mitigasi bencana.

Referensi :

Bmkg. 2015. Gempa Bumi. (www.balai3.denpasar.bmkg.go.id) diakses tanggal 28 Maret 2017

Bmkg. 2017. Gempa Bumi Terkini. (www.bmkg.go.id) diakses tanggal 28 Maret 2017

Hartono. 2007. Geografi (Jelajah Bumi dan Alam Semesta). Citra Praya: Bandung

Penulis : Andi Syamrizal (Mahasiswa S2 Teknik Geofisika ITB) 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *